UY0EvzZgeEEo4KiQ1NIivy9VYY1PQHFF9n6p7Enr
Bookmark

Griya Umasari Gelar Upacara Metatah Masal Gratis untuk Meringankan Beban Umat

Upacara metatah masal gratis Rabu, 29 Juli 2026 di Griya Umasari, Br. Jakatebel, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan. 

TABANAN, LIPUTANINFOWARGA.COM — Rangkaian Pujawali Merajan di Griya Umasari, Banjar Jakatebel, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Bali, dirangkai dengan pelaksanaan upacara metatah masal gratis pada Rabu (29/7). Sebanyak 17 peserta berpartisipasi mengikuti upacara metatah tersebut.

Ida Pandita Mpu Dwi Kusuma Nanda menyampaikan bahwa upacara Manusa Yadnya gratis ini digelar untuk meringankan beban umat, khususnya bagi keluarga kurang mampu yang membutuhkan pelaksanaan ritual metatah.

Upacara metatah yang juga dikenal sebagai mepandes merupakan ritual penting dalam ajaran agama serta adat Hindu Bali. Pelaksanaan tradisi potong gigi ini mengandungi makna filosofis sebagai bentuk penyucian lahir dan batin, pengikisan sifat-sifat buruk manusia, sekaligus penanda transisi spiritual seseorang melangkahkan kaki menuju kedewasaan.

Rangkaian upacara dimulai dengan persembahyangan bersama seluruh peserta. Selanjutnya, peserta menjalani berbagai prosesi adat secara bertahap, meliputi ritual mebyakala, ngeraja singa/sewala, ngekeb, hingga penataan simbolis (ngerajah).

Puncak ritual berlangsung pada tahap mepandes atau pengasahan gigi. Pada tahapan ini, Sang Sangging merapikan enam gigi bagian atas yang terdiri dari empat gigi seri dan dua gigi taring. Prosesi pengasahan ini merepresentasikan pengikisan Sad Ripu, yakni enam musuh utama dalam diri manusia yang meliputi Kama (hawa nafsu), Lobha (kesetakan), Krodha (kemarahan), Mada (kemabukan/kegelapan pikiran), Moha (kebingungan), dan Matsarya (iri hati).

Sesudah pengasahan gigi usai, peserta menjalani prosesi nyapu dan ngelus gigi dengan cara membersihkan rongga mulut menggunakan air suci (tirta) serta air kelapa muda (kuwud). Sisa pembersihan dan perataan gigi tersebut ditampung di dalam kelapa gading khusus.

Ritual dilanjutkan dengan prosesi ngecap, di mana peserta mencicipi enam varian rasa dasar: pahit, manis, asin, asam, pedas, dan sepat. Tahapan ini menyimbolkan kesiapan mental seorang individu untuk mengarungi lika-liku dinamika kehidupan yang penuh warna dan tantangan.

Mendekati penghujung acara, peserta menjalani ritual mepetik atau pemotongan sedikit ujung rambut sebagai penyempurna penyucian diri secara holistik. Suasana haru mewarnai bagian akhir upacara ketika para peserta melakukan sungkeman kepada orang tua masing-masing untuk memohon doa restu, dilanjutkan dengan penyampaian rasa terima kasih kepada Ida Pandita atas fasilitas upacara gratis tersebut.

Ketua Panitia Kegiatan, I Gede Budiasa, menyampaikan apresiasi kepada seluruh semeton panitia, para pemangku, serta semua pihak yang telah berkontribusi hingga rangkaian Manusa Yadnya Masal Gratis ini dapat berjalan lancar, "pungkasnya. (*)