![]() |
| Filosofi Niskala di Manis Kuningan: Gubernur Koster Kirim Pesan Mendalam sebagai Epilog Spiritual. (Foto: Istimewa) |
DENPASAR, LIPUTANINFOWARGA.COM – Rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan ditutup dengan refleksi mendalam, menyusul dua pesan singkat yang dikirimkan Gubernur Bali, Wayan Koster, pada hari Manis Kuningan, Minggu 30 September 2025. Pesan tersebut, yang disampaikan melalui aplikasi pesan singkat, melampaui ucapan selamat biasa, melainkan menyoroti nilai fundamental keikhlasan (dana) dan pengendalian diri (yama) sebagai inti dari ajaran spiritual Hindu Bali.
Pesan pertama Gubernur Koster berbunyi: “Menolong tanpa syarat, menerima tanpa melupakan, dan memberi tanpa mengingat.” Kalimat ini menjadi sorotan karena menjejakkan spiritualitas yang telah dirayakan selama rangkaian Galungan–Kuningan ke ranah etika praktis. Secara filosofis, pesan ini mengingatkan umat bahwa kesucian ritual hanya bernilai jika diwujudkan dalam tindakan tanpa pamrih, sebuah konsep yang senada dengan ajaran Karma Yoga—aksi tanpa terikat hasil.
Tak lama kemudian, pesan kedua menyusul, menambahkan dimensi kosmik: “Proses menuju penyatuan jiwa dan raga dengan alam semesta, syarat mutlak mampu menghilangkan egoisme dan berbagai keterikatan." Pesan kedua ini secara eksplisit merujuk pada prinsip keseimbangan Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan) dan kebutuhan untuk meredam ahamkara (egoisme).
Pesan ini disampaikan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, pada Manis Kuningan (30/09/2025), hari terakhir dari siklus upacara suci yang menandai kemenangan Dharma atas Adharma.
Pesan Gubernur Koster hadir tepat saat ketenangan spiritual meliputi Bali, yaitu fase ketika umat Hindu secara tradisional beralih dari kesibukan ritual (sekala) menuju penataan batin (niskala). Dalam konteks jurnalistik filosofis, tindakan Gubernur Koster memilih berdialog tentang nilai daripada proyek atau kebijakan di momen sakral ini menguatkan pandangan bahwa kepemimpinan di Bali harus selaras dengan landasan budaya dan spiritualnya. Ia seakan menjadi epilog bagi rangkaian upacara, mengingatkan bahwa ibadah sejati adalah perjalanan pengendalian diri yang tidak pernah selesai.
Pesan-pesan ini menggantung, tidak ikut padam bersama dupa, melainkan mengendap sebagai pengingat kolektif bahwa penyucian diri terjadi bukan hanya di altar, tetapi dalam cara hidup sehari-hari yang jernih dan ikhlas. (*)

