UY0EvzZgeEEo4KiQ1NIivy9VYY1PQHFF9n6p7Enr
Bookmark

Menyucikan Pertiwi, Mengukuhkan Stana Niskala: Sakralnya Ritual Napak Pertiwi di Pura Kusuma Bang

Prosesi Napak Pertiwi dalam rangkaian Karya Ngenteg Linggih di Pura Kusuma Bang, Banjar Jakatebel, Desa Tanguntiti, Selemadeg Timur, Tabanan, Sabtu (17/10). Ritual ini digelar untuk menyucikan tanah dan mengukuhkan stana Ida Bhatara.

TABANAN, LIPUTANINFOWARGA.COM - Rangkaian upacara besar Karya Ngenteg Linggih di Pura Kusuma Bang, Banjar Jakatebel, Desa Tanguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, mencapai salah satu puncaknya melalui ritual sakral Napak Pertiwi yang digelar pada Sabtu (17/10/2026).

Ritual Napak Pertiwi diselenggarakan sebagai prosesi suci menyucikan unsur pertiwi, sekaligus mengukuhkan stana Ida Bhatara di Pura Kusuma Bang. Tak hanya mengukuhkan kedudukan spiritual, prosesi ini menjadi wujud permohonan tulus umat kepada Ibu Pertiwi agar senantiasa melimpahkan keselamatan, kedamaian, dan kerahayu-an bagi masyarakat serta lingkungan sekitar.

Sebelum prosesi utama dilangsungkan, para pengempon, pengayah, serta semeton Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Kecamatan Selemadeg Timur melaksanakan Kramaning Sembah, persembahyangan bersama.

Secara filosofis, ritual Napak Pertiwi melambangkan penyucian panca mahabhuta—khususnya unsur tanah—serta penyatuan energi spiritual transendental dengan alam fisik. Kehadiran ritual ini menandaskan bahwa kekuatan suci Sang Creator dan para dewa telah hadir, membumi, serta menyatu secara kokoh (sekala-niskala) di Pura Kusuma Bang dan sekitarnya. Lewat momen ini, umat kembali memohon restu kepada Ibu Pertiwi agar senantiasa menjaga kesucian tanah tempat mereka memijak.

Ida Pandita Mpu Dwi Kusuma Nanda (tengah) bersama Pengurus MGPSSR Selemadeg Timur.

Kegiatan sakral ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dan pemuka agama, di antaranya Ketua MGPSSR Selemadeg Timur I Made Sunarya, Ida Pandita Mpu Dwi Kusuma Nanda dari Griya Umasari, jajaran Panitia Karya Ngenteg Linggih, Paiketan Pemangku Bhakti Yoga Dharma, Pesemeton Suksmaning Sarira, serta para tokoh masyarakat setempat.

Kerjasama dan semangat gotong royong (ngayah) antara tokoh adat, pemuka agama, dan seluruh warga menjadi fondasi utama hingga prosesi suci Napak Pertiwi berjalan dengan lancar, hikmat, dan penuh kedamaian. (*)