TABANAN, LIPUTANINFOWARGA.COM – Dalam upaya menjaga eksistensi dan melestarikan peninggalan purbakala, Tim Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Tabanan berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Dinas Kebudayaan, menggelar penelitian terhadap benda cagar budaya di Pura Dadya Agung Pasek Kubayan, Banjar Bendul, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan.
Kegiatan pengkajian yang berlangsung pada Selasa (9/6) ini berfokus pada pelacakan otentisitas dan nilai historis dari satu set perangkat suci kuno, yakni Siwa Karana, yang selama ini disakralkan oleh pengempon pura setempat.
Siwa Karana sendiri merupakan kesatuan perangkat ritual yang digunakan oleh pemuka agama Hindu (Sulinggih/Ida Pandita) saat memimpin upacara keagamaan di bale pawedanan. Pada situs ini, seluruh kelengkapan alat suci—termasuk sangku (wadah air suci), tempat dupa, lampu minyak, wadah tirta alit, tempat bija, hingga gelang—ditemukan dalam kondisi utuh dan seluruhnya terbuat dari material tembaga.
Menyingkap Angka Tahun Abad ke-15
Fokus utama dalam riset ini mengarah pada salah satu artefak, yakni sebuah sangku tembaga yang memiliki guratan tulisan kuno. Berdasarkan hasil pembacaan epigrafi oleh ahli dari Tim BRIN, Ngurah Suarbawa, tulisan pada badan wadah air suci tersebut memuat angka tahun 1339 Saka, atau bertepatan dengan tahun 1417 Masehi.
Temuan penanggalan dari awal abad ke-15 ini mempertegas nilai historis yang sangat tinggi, sekaligus menjadi bukti fisik dinamika kehidupan religius dan peradaban masyarakat Bali di era lampau. Usai identifikasi tulisan, tim peneliti langsung melakukan pendokumentasian visual secara detail serta penyusunan deskripsi formal terhadap seluruh bagian dari komponen Siwa Karana tersebut.
Jembatan Literasi untuk Generasi Mendatang
Prosesi pengkajian ini disaksikan langsung oleh Jro Mangku Gede Pura Dadya Agung, jajaran pengurus pura, Panitia Pembangunan Wantilan, tim penulis internal, serta para tokoh dan semeton Pasek Kubayan. Kehadiran mereka mempertegas komitmen kolektif dalam mengawal validitas sejarah leluhur Pasek Kubayan.
![]() |
| Sesi foto bersama antara pengurus Pura Dadya Agung Pasek Kubayan dengan tim dari BRIN, BRIDA, dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan. |
Secara jangka panjang, data deskriptif dan hasil kajian akademis dari Brida dan BRIN ini tidak sekadar diarsipkan sebagai laporan formal. Seluruh hasil penelitian akan diintegrasikan sebagai materi utama dalam penyusunan buku sejarah perjalanan leluhur Tri Sentana, yang meliputi garis keturunan Pasek Kubayan, Pasek Tutuan, dan Pasek Salahin.
Penerbitan buku sejarah Tri Sentana tersebut diharapkan mampu menjadi media literasi dan sumber informasi autentik bagi generasi muda. Melalui dokumentasi berbasis riset ini, generasi penerus diharapkan dapat memahami, menghargai, serta tidak kehilangan jati diri atas warisan nilai-nilai luhur dan asal-usul leluhur Pasek Kubayan. (*)


