AMLAPURA, LIPUTANINFOWARGA.COM – Di tengah pesatnya arus informasi digital, perlindungan terhadap anak dari risiko kekerasan dan pengaruh negatif media sosial menjadi prioritas mendesak. Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, memberikan edukasi langsung kepada ratusan siswa mengenai pentingnya literasi digital dan keterbukaan dalam keluarga.
Edukasi ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak yang berlangsung di SMP Negeri 5 Amlapura, Kabupaten Karangasem, pada Senin (11/5)2026).
Dalam arahannya, Seniasih menekankan bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Jika tidak digunakan dengan bijak, platform digital dapat memicu perilaku negatif bahkan menjadi pintu masuk terjadinya kekerasan pada anak. Ia mengimbau para pelajar untuk lebih selektif dalam mengonsumsi konten dan tidak mudah terpengaruh oleh tren yang tidak memberikan dampak positif bagi perkembangan mental.
Namun, pengawasan digital saja tidak cukup. Seniasih menyoroti bahwa ketahanan mental anak berakar dari hubungan yang harmonis di dalam rumah.
"Keluarga memiliki peran utama dalam membentuk karakter. Perkembangan teknologi harus disikapi dengan bijak agar tidak memicu perilaku menyimpang," tegasnya.
Salah satu poin krusial yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut adalah fenomena remaja yang lebih memilih mencurahkan isi hati (curhat) di media sosial dibandingkan kepada keluarga. Seniasih memperingatkan bahwa mencari solusi di ruang publik digital sangat berisiko, karena saran yang diterima belum tentu tepat dan justru bisa memperkeruh masalah.
"Kalau ingin curhat, curhatlah kepada orang tua, jangan kepada orang lain karena belum tentu memberikan saran yang tepat," ujar Seniasih di hadapan para siswa.
Langkah ini dipandang sebagai upaya preventif yang efektif. Dengan membangun komunikasi dua arah yang jujur antara anak dan orang tua, potensi anak untuk menjadi korban maupun pelaku kekerasan dapat ditekan sejak dini.
Kegiatan di Karangasem ini diharapkan mampu membekali siswa dengan kesadaran akan hak-hak mereka serta batasan dalam berinteraksi di dunia maya. Secara edukatif, pesan ini menggarisbawahi bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung prestasi, bukan sumber konflik atau trauma.
Melalui sosialisasi ini, Forum PUSPA Bali berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya lingkungan sekolah dan rumah yang aman (safe zone) bagi anak-anak di seluruh Bali, guna mewujudkan generasi muda yang tangguh di era digital. (*)

